Home / KOLOM DOSEN / Antropologi Kurban

Antropologi Kurban

Ibadah kurban yang dilaksanakan setiap Idul Adha, 10 Zulhijah dan hari-hari tasyrik (11-13 Zulhijah) sering dipahami keliru. Sebagian orang berpandangan bahwa pada hari itu umat Islam melakukan ‘pembantaian’ hewan secara masif, sehingga dikhawatirkan populasi hewan berkurang drastis. Pandangan ini disebabkan pemahaman sempit dan kurang simpatik terhadap nilai-nilai kemanusiaan luhur ibadah kurban. Sejatinya kurban merupakan ibadah multidimensi, baik dimensi mental spiritual, dan sosial, maupun edukasional, historikal, dan kultural.

Dalam perspektif antropologi, khususnya antropologi agama, kurban itu merupakan ritualitas simbolik yang kaya makna. Menurut Clifford Geertz dalam Religion as a Cultural System (1993), analisis sistem makna yang terkandung dalam simbol-simbol agama, seperti menyembelih hewan kurban, tidak hanya penting membentuk perilaku keberagamaan konstruktif, tetapi juga signifikan menjalin kekerabatan dan kebersamaan sosial. Oleh karena itu, penyembelihan hewan kurban itu simbol pendekatan spiritual seorang hamba kepada Tuhannya, sekaligus pendekatan sosial kemanusiaan dengan sesamanya.

Kurban itu tanda takwa dan cinta kasih vertikal dan horizontal. Darah yang dialirkan melalui proses penyembelihan dan daging yang dibagikan kepada fakir miskin, termasuk dikonsumsi pekurban sendiri, juga simbol kepedulian, kekerabatan, dan kesetiakawanan sosial.
Karena itu, kurban menjadi media sosial kultural mewujudkan keseimbangan antara pendekatan teologis dan pendekatan humanis. Esensi dari prosesi ritualitas kurban ialah afirmasi ketakwaan hati dan pikiran, keteguhan iman, dan kesalehan sosial (QS Al-Hajj 22: 37). Jadi, berkurban dengan menyembelih hewan dan membagikan dagingnya bukan untuk pencitraan dan riya sosial, seperti pamer kekayaan, tetapi untuk meningkatkan harkat dan martabat kemanusiaan.

Karena berkurban hewan itu juga menjadi simbol penyembelihan sifat-sifat kebinatangan dalam diri manusia, seperti tamak, rakus, egoisitas, amarah, serakah, intoleran, dsb. Dalam antropologi agama, tradisi kurban ada sejak Nabi Adam AS. Saat itu, kedua putranya, Qabil dan Habil, diminta berkurban terbaik dan paling dicintainya. Allah mengabadikan kisah ini dalam Alquran. “Dan ceritakanlah (Muhammad) yang sebenarnya kepada mereka tentang kisah kedua putra Adam, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka (kurban) salah seorang dari mereka berdua (Habil) diterima dan dari yang lain (Qabil) tidak diterima. Dia (Qabil) berkata, “Sungguh, aku pasti membunuhmu!” Dia (Habil) berkata, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertakwa. Sungguh, jika engkau (Qabil) menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Aku takut kepada Allah, Tuhan seluruh alam.” (QS Al-Maidah 5:27-28).

Sayangnya, persembahan kurban kedua putra Adam ini berakhir tragis karena disulut api cemburu dan rivalitas berlebihan, sehingga Habil harus mati dibunuh saudaranya sendiri, Qabil. Pembunuhan Habil, sebagai korban kebiadaban dan kecemburuan, ternyata diikuti penguasa dan sebagian manusia sesudahnya. Banyak manusia dikorbankan sebagai ‘tumbal’ kekuasaan dan keserakahan ekonomi dengan cara dikriminalisasi, disiksa, dipenjara tanpa diadili, dibunuh, dan diperlakukan secara tidak manusiawi. Oleh karena itu, Nabi Ibrahim AS diutus Allah SWT untuk mengemban misi mulia: menghapus tradisi biadab pengorbanan manusia, melalui perintah ‘menyembelih’ putranya tercinta. Secara teologis, perintah ‘menyembelih’ anak kesayangannya adalah ujian iman paling berat untuk seorang Nabi.

Namun demikian, secara sosiologis antropologis, ketaatan dan ketulusan melaksanakan perintah Allah untuk mengurbankan anaknya simbol keteladanan sosial paling tinggi untuk mengakhiri tradisi pengorbanan manusia, sehingga akhirnya Ismail tidak jadi disembelih lalu diganti dan ditebus hewan sembelihan (domba) yang besar. Penggantian kurban manusia dengan hewan merupakan apresiasi dan aktualisasi janji Allah untuk memberi balasan yang terbaik orang yang bertakwa dan berbuat baik (QS as-Shaffat 37:103-111)
Ismail yang dikorbankan merupakan simbolisasi bakti suci dan cinta Ilahi sepenuh hati, sebab kekayaan paling dicintai dan aset keluarga paling berharga adalah anak kandung yang disayanginya.

Berkurban dengan menyembelih hewan kurban juga harus membuahkan cinta kemanusiaan, di samping menggapai cinta Tuhan. Karena hewan yang dikurbankan itu idealnya harus memberi dampak positif bagi kemanusiaan. Pekurban yang ikhlas dan muhsin (berhati dan bertindak penuh kebajikan) pasti memiliki kesadaran dan komitmen moral yang kuat untuk mengembangkan kesetiakawanan sosial, kedermawanan, kebersamaan, dan empati kemanusiaan terhadap sesama. Dengan kata lain, berkurban hewan itu merupakan amal kemanusiaan yang semestinya membuahkan solidaritas sosial, persaudaraan, perdamaian, toleransi, dan kerukunan, bukan untuk pembantaian masif hewan. Lagi pula, pelaksanaan kurban ini hanya terjadi setahun sekali, dan yang dianjurkan untuk disembelih ialah hewan betina, bukan jantan, sehingga tidak berdampak pada punahnya populasi hewan sembelihan sebagai sumber nutrisi bergizi dan ketahanan pangan.

Sumber : mediaindonesia.com

About Hasanudin, M.Pd

Admin Web PBA : Hasanudin, M.Pd. | Web : www.hasanudin.id

Check Also

Edukasi Kosmologi dalam Isra Mikraj Nabi

Dr. Muhbib Abdul Wahab, M.A.Dosen Pascasarjana FITK UIN Syarif Hidayatullah dan UMJ PENDUDUK Mekkah pernah heboh …

Tinggalkan Balasan