Home / KOLOM DOSEN / Fikir Air dan Siaga Banjir

Fikir Air dan Siaga Banjir

Fikih air mengajak siapa pun memaknai pesan Alquran berikut, “Pernahkah kamu mem perhatikan air yang kamu minum? Ka mu kah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan? Sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami men jadikannya asin, mengapa kamu tidak ber syukur?” (QS al-Waqi’ah [56]: 68-70).

GMA menyadarkan semua pihak tentang pentingnya ‘menjaga dan menyimpan’ air de ngan bersikap hemat dalam memanfaat kannya. Jadi, fikih air dan GMA berfungsi ganda, yakni siaga banjir sekaligus menyim pan cadangan air untuk musim kemarau.

Karena itu, pemerintah perlu memelopori dan menyosialisasikan GMA agar ancaman banjir pada musim hujan dapat dieliminasi sekaligus krisis air bersih dan kekeringan pada musim kemarau tidak berimplikasi terhadap krisis pangan, matinya aneka hewan dan tumbuh-tumbuhan, puso nya lahan pertanian dan hortikultura, konflik sosial akibat rebutan sumber air, naiknya harga air minum dan air bersih.

Jadi, pesan moral dari fikih air adalah air merupakan rahmat, amanah, dan sumber utama kehidupan, sedangkan mensyukuri dan menabung air adalah pilihan bijak untuk mengantisipasi dan siaga banjir.

Kerusakan lingkungan di daratan dan lautan itu umumnya disebabkan kebijakan, perlakuan, dan ulah manusia terhadap alam (QS Ar-Rum [30]: 41). Karena itu, fikih air menghendaki pemahaman sumber daya air berbasis budaya positif dan konstruktif. Budaya ini perlu diaktualisasikan dengan memaknai hujan itu sebagai rahmat dari Tuhan. Air hujan harus disyukuri dengan dikelola, ditabung, dan dimanfaatkan secara optimal untuk kemaslahatan hidup bersama.

Surat al-A’raf: 57-58 mengisyaratkan pentingnya fikih air dalam konteks siklus turunnya air hujan, yakni angin, awan, dan hujan, yang disebut rahmatihi (rahmat-Nya), tapi juga pentingnya manusia mengambil pelajaran dan keharusan bersyukur. Aktualisasi budaya konstruktif (bersyu kur) adalah pentingnya menabung air, karena Allah SWT menjadikan air itu ‘menetap’ di bumi dan ‘menyimpannya’.

Jika air hujan itu ‘tidak menetap’ dan tidak ‘tersimpan’ karena tidak ditabung, lalu meluap dan menjadi banjir, boleh jadi karena manusia tidak mema hami bagai mana air itu semestinya menetap dengan baik.

Manusia kadang terlalu serakah dan banyak merusak ekosistem dengan menebang pohon dan hutan, mengganti lahan produktif dengan bangunan dan jalan beton, mem buang sampah sembarangan, dan tidak memperbaiki drainase berikut aliran sungai. Akibatnya, air hujan yang diturunkan Allah itu tidak dapat diserap dan disimpan dalam tanah, lalu meluber menjadi banjir.

Pesan moral Alquran juga meng isyarat kan pentingnya membuat bendungan, sumur resapan, biopori, dan sebagainya se hingga bumi bisa berfungsi sebagai reservoir (tempat menyimpan dan menabung) air agar pada musim kemarau krisis air tidak terjadi.

Dengan reboisasi, reforesisasi, dan regu lasi tata kota/desa yang berwawasan lingkungan, go green, tidak semua air hujan meng alir ke laut melalui sungai-sungai, tetapi bisa diserap dan disimpan akar pepohonan. Ayat tersebut juga mendorong adanya regulasi terkait konservasi sumber daya air dan penegakan hukum bagi perusak ling kung an alam. Konservasi air, bukan kapitali sasi air oleh para pemodal, sudah saatnya menjadi komitmen bersama.

Berbasis fikih air, Gerakan Menabung Air (GMA) idealnya menyadarkan semua pihak bahwa air itu tidak hanya untuk diminum, mandi, mencuci, memasak, dan bersuci, tetapi juga untuk pengembangan pertanian produktif dan pembangkit tenaga listrik.

Contoh GMA yang perlu ditiru dan dikembangkan adalah pembuatan sumur injeksi (resapan) di Kota Malang yang dengan diamater satu meter dan kedalaman 10-15 meter mampu menyimpan 8.000 liter air sehingga air hujan disimpan.

GMA idealnya dapat membentuk minda positif bahwa air itu amanah dan rahmat yang harus dikelola, disyukuri, ditabung, di sedekahkan, dan didayagunakan. Idealnya, Indonesia bisa menjadi pengekspor air ke negara padang pasir, jika mampu meman faatkannya. Namun, sumber daya air nasi onal banyak dikuasai pemodal asing dan ‘disulap’ menjadi pro duk air minum kemasan yang mengun tung kan mereka.

Padahal air, api, dan rumput pada dasar nya merupakan ‘milik publik’ (HR Ahmad dan Abu Dawud), milik bersama dan harus dikuasai negara untuk kepentingan rakyat. GMA juga dapat menumbuhkan kearifan dan kesalehan ekologis dalam mengelola air.

Fikih air mengajak siapa pun memaknai pesan Alquran berikut, “Pernahkah kamu mem perhatikan air yang kamu minum? Ka mu kah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan? Sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami men jadikannya asin, mengapa kamu tidak ber syukur?” (QS al-Waqi’ah [56]: 68-70).

GMA menyadarkan semua pihak tentang pentingnya ‘menjaga dan menyimpan’ air de ngan bersikap hemat dalam memanfaat kannya. Jadi, fikih air dan GMA berfungsi ganda, yakni siaga banjir sekaligus menyim pan cadangan air untuk musim kemarau.

Karena itu, pemerintah perlu memelopori dan menyosialisasikan GMA agar ancaman banjir pada musim hujan dapat dieliminasi sekaligus krisis air bersih dan kekeringan pada musim kemarau tidak berimplikasi terhadap krisis pangan, matinya aneka hewan dan tumbuh-tumbuhan, puso nya lahan pertanian dan hortikultura, konflik sosial akibat rebutan sumber air, naiknya harga air minum dan air bersih.

Jadi, pesan moral dari fikih air adalah air merupakan rahmat, amanah, dan sumber utama kehidupan, sedangkan mensyukuri dan menabung air adalah pilihan bijak untuk mengantisipasi dan siaga banjir.

Muhbib Abdul Wahab

Dosen Pascasarjana FITK UIN Syarif Hidayatullah dan UMJ

Sumber : Dialog Jumat Republika

About Hasanudin, M.Pd

Admin Web PBA : Hasanudin, M.Pd. | Web : www.hasanudin.id

Check Also

Edukasi Kosmologi dalam Isra Mikraj Nabi

Dr. Muhbib Abdul Wahab, M.A.Dosen Pascasarjana FITK UIN Syarif Hidayatullah dan UMJ PENDUDUK Mekkah pernah heboh …

Tinggalkan Balasan