Home / KOLOM DOSEN / Ibu Era Milenial dan Revolusi Mental Spritual

Ibu Era Milenial dan Revolusi Mental Spritual

Tanggal 22 Desember di peringati sebagai Hari Ibu. Peringatan Hari Ibu idealnya bukan sekadar seremoni tanpa substansi, melain kan harus dimaknai sebagai momentum penuh esensi dan kontekstualisasi dalam rangka memberdayakan dan memantapkan peran ibu sebagai sumber kasih sayang dan inspirasi, pendidik pertama dan utama bagi anak-anak bangsa sepanjang masa.

Di era milenial ini peran ibu sebagai pendidik dan peng gerak revolusi mental spiritual sangatlah besar karena me miliki kedekatan emosional dan edukasional dengan anak biologis (anak kandung) mau pun anak sosiologis (anak didik). Sentuhan kasih sayangnya tak tergantikan oleh siapa pun.

Karena itu, ibu zaman now harus menjadi sosok hebat (greatest mother): inspiratif, menjadi role model bagi anak bangsa. Kenyata annya, tidak sedikit ibu yang dinilai gagal menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi generasi milenial karena berbagai sebab. Di antara nya ibu lebih mementingkan “karier di luar rumah” dari pada menekuni dan menyukseskan urusan domestik keluarga.

Keluarga Basis Revolusi Mental Spiritual

Keluarga adalah sakaguru bangsa. Maju dan mundurnya bangsa dan negara sangat ditentukan oleh fungsi dan peran keluarga sebagai basis revolusi mental spiritual. Keluarga sakinah (damai, harmoni), mawaddah warahmah (penuh cinta dan kasih sayang) merupakan modal sosial yang sangat penting bagi ketahanan mental spiritual umat dan bangsa.

Ada pun ibu merupakan tiang pan cang keluarga dan rumah besar bangsa. Dengan kata-kata lain, ibu milenial memiliki fungsi dan peran revolusional dalam mem bentuk karakter positif, men talitas, dan spiritualitas masa depan bangsa melalui pendidik an informal. Dalam Teacher Professional Development in Finland: Towards a More Holistic Approach (2015), Hannele Niemi menjelaskan bahwa sistem pendidikan di Finlandia itu menjad i paling maju dengan model sekolah inovatifnya (innovative school model) karena sistem dan model pengembangan profesio nalitas guru bersifat holistik.

Pen didikan di sana terintegrasi dengan pendidikan informal (keluarga) dan optimalisasi peran eduka tif sang ibu. Proses pembelajaran aktif (active learning) dan lingkungan model persekolahan di Finlandia itu sangat nyaman, kondusif, dan inspiratif.

Ibu dan guru mendidik anak-anak mereka dengan sepenuh hati, berbasis kompetensi profesional dan pedagogi mumpuni, ditunjang keterampilan kreatif dalam komunikasi, ber kolabo rasi dalam riset, pengem bang an bahan ajar, dan pemecahan masalah.

Kepemimpinan dan manajemen pendidikannya juga efektif, partisipatoris, dan berorientasi pada pemben tuk an karakter konstruktif. Jaringan dan kolaborasi lembaga pen didikan dengan keluarga, ma sya rakat, media massa, dan pemerintah dikembangkan dengan model simbiosis mutual listik dan produktif.

Bervisi Profetik

Idealnya ibu hebat itu bervisi profetik. Bukan hanya me rawat, mengajar, mendidik, membelajar kan anak-anaknya, tetapi juga menyayangi, melakukan transformasi, memotivasi, menginspirasi, dan memberi teladan terbaik bagi mereka.

Dengan kata-kata lain, ibuhebat di era milenial itu harus diper siapkan, dididik, dilatih, dan di kembangkan secara profesional dan terintegrasi dengan insti tusi pendidikan lain agar sang ibu mampu berperan optimal dalam menggerakkan revolusi mental spiritual.

Visi profetik yang diwariskan Nabi Muhammad SAW bagi para pendidik, khususnya ibu, adalah multifungsi dan pe rannya sebagai guru kehidup an, guru kemanusiaan, guru perubahan dan pem baruan, sekaligus guru peradaban.

Meski pun dihadapkan pada berbagai keterbatasan, Nabi SAWtidak hanya sukses mengubah akidah masyarakat jahiliah yang polit eistik menjadi berakidah tauhid, tetapi juga sukses mengubah akhlak (moral, karakter, budi pekerti, dan perilaku) masyarakatnya yang biadab menjadi beradab dan berkeadaban.

Karena itu, ibu di era milenial perlu mengaktual isasikan visi profetik tersebut dalam menyukseskan revolusi mental spiritual melalui pen didikan informal dengan keteladanan yang baik (uswah hasanah). Keteladanan yang baik merupakan kunci sakti pendidikan berkemajuan sehingga dalam menjalankan fungsi dan perannya sang ibu mampu mem beri solusi terhadap berbagai persoalan dan tantangan zamannya.

Era Revolusi Industri 4.0 meng hendaki ibu rumah tangga, ibu guru, ibu pejabat, dan ibu negara tampil menjadi teladan terbaik dan terdepan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan Ibu Pertiwi. Ibu era milenial sangat diharapkan dapat membuka cakra waladanpandangandunia anak-anak bangsa dengan mengembangkan pemikiran kreatif dan liberatif (membebaskan) mereka dari kungkungan tradisi, zona nyaman (comfort zone), dan mindset negatif me nuju hi dup positif, krea tif, dan inovatif.

Ibu eramilenialidealnya selalu berupaya memotivasi, meng inspirasi, dan menghabituasi anakanaknya untuk berpikir kritis, inovatif, dan pro duktif sesuai dengan per kembangan dan tuntutan zaman.

Menjadi Ibu Teladan

Sebagai sumber kasih sayang dan spirit keibuan, ibu era milenial harus mampu menjadi role model (teladan) dalam mengedukasi generasi harapan masa depan bangsa. Kata kunci menjadi ibu teladan adalah mendidik putra-putrinya dengan hati (cinta, kasih sayang.

Karakter dan akhlak ibu era milenial juga harus menampilkan integritas moral yang tinggi: jujur (shidq), tekun, dan tepercaya (amanah), terbuka dan komunikatif (tabligh), dan berpikir cerdas dan kreatif (fathanah) dalam memajukan peradaban bangsa.

Selain itu, ibu juga sangat diharapkan memiliki kompetensi unggul dalam berpikir kritis, berkomunikasi efektif, menguasai bahasa asing, mampu memberi solusi terhadap masalah yang dihadapi anakanak dan generasi muda. Ibu teladan idealnya juga terampil memanfaatkan teknologi komunikasi dan informasi, dan terlatih bertindak solutif, kreatif, dan inovatif.

Ibu teladan era milenial adalah benteng mental spiritual dan moral generasi muda dan masa depan bangsa. Sedemikian besar kontribusi seorang ibu, Nabi SAWpun sampai menyebut “ibumu” tiga kali ketika ditanya seorang sahabat: “Siapakah manusia yang paling berhak aku per lakukan dengan baik (berbuat baik kepadanya)?” Rasulullah menjawab, “Ibumu”.

Orang itu bertanya lagi, “Lalu siapa?” Rasul menjawab, “Ibumu”. Orang itu bertanya lagi, “Lalu siapa?” Rasul menjawab, “Ibumu”. Orang itu masih bertanya lagi, “Lalu siapa lagi?” Rasul menjawab, “Kemudian ayahmu.” (HR Muslim).

Jika dibaca dengan ilmu statistik, hadis tersebut menunjukkan bahwa peran dan kontribusi ibu teladan mencapai 75%, sedangkan ayah sekitar 25% dalam menggerakkan revolusi mental spiritual, terutama melalui pendidikan informal.

Karena itu, perempuan calon ibu teladan harus dicerdaskan dan dicerahkan masa depannya dengan memper oleh akses dan kesempatan yang setara dalam pendidikan, peran sosial ekonomi, budaya, politik, dan sebagainya. Gerak an literasi peradaban bagi sang ibu melalui lembaga pendidik an formal, informal, dan non formal, termasuk melalui media massa dan media sosial, harus menjadi perhatian dan kepedulian semua pihak.

Nutrisi informasi dan edukasi nilai dan profesi bagi para ibu milenial harus dikembangkan sedemikian rupa sehingga mereka memiliki kemandirian sosial ekonomi dan kontribusi signifikan bagi peradaban bang sa berkemajuan. Ibu teladan di era milenial idealnya juga menjadi garda terdepan dalam membentengi anak-anak dan keluarga dari dekadensi moral.

Hal ini berarti bahwa para ibu harus menjadi teladan terbaik dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Menurut pakar pendidikan, Abdurrahmanan Nahlawi dan Abdullah Nasih Ulwan, keteladanan yang baik merupakan kata kunci yang harus diperang kan ibu teladan, sehingga mampu mengubah, memperbaiki, mereformasi kualitas hidup anakanak bangsa, sekaligus membebaskan mereka dari segala “nestapa kehidupan”: kebodohan, kemiskinan, keterbelakangan, kemunduran, keterjajahan, dan kelumpuhanmentalspiritual.

MUHBIB ABDUL WAHAB

Dosen Pascasarjana FITK UIN Syarif Hidayatullah dan Universitas Muhammadiyah Jakarta

Sumber : Koran Sindo

About Hasanudin, M.Pd

Admin Web PBA : Hasanudin, M.Pd. | Web : www.hasanudin.id

Check Also

Edukasi Kosmologi dalam Isra Mikraj Nabi

Dr. Muhbib Abdul Wahab, M.A.Dosen Pascasarjana FITK UIN Syarif Hidayatullah dan UMJ PENDUDUK Mekkah pernah heboh …

Tinggalkan Balasan