Home / KOLOM DOSEN / Kurban Menurut Islam (2)

Kurban Menurut Islam (2)

KURBAN MENURUT ISLAM (2)
PENGERTIAN UDHHIYAH (أضحية)
Oleh : Prof. Dr. H. Ahmad Thib Raya, M.A.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Apa yang dimaksud dengan udhhiyah (أضحية)? Pengertian kata ini dapat dijelaskan dari dua sisi, yaitu sisi kebahasaan dan sisi fikihnya sehingga maknanya lebih jelas. Menurut pengertian bahasa, udhhiyah (أضحية) ialah sebutan bagi hewan yang disembelih pada hari raya Idul Adha. Jadi, hewan kurban itu di dalam bahasa Arab disebut udhhiyah (أضحية), bukan hayawaan qurbaan (حيوان قربان). Kalau Anda berkata dalam bahasa Indonesia: “Ini hewan kurbanku”, maka dalam bahasa Arabnya Anda berkata: “هَذِهِ أُضْحِيَتِيْ”, bukan هَذَا حَيَوَانُ قُرْبَانِيْ. Kalimat yang pertama adalah kalimat yang baik dan benar, sedangkan kalimat yang kedua ini adalah kalimat yang tidak baik dan tidak benar. Sebab, kalimat yang kedua adalah kalimat bahasa Indonesia yang berbunyi dan bertulisan Arab.

Menurut istilah ilmu fikih, udhhiyah (أضحية), yaitu hewan yang khusus disembelih dengan niat mendekatkan diri kepada Allah pada waktu tertentu. Dari pengertian ini dapat kita lihat bahwa udhhiyah (أضحية) memiliki tiga unsur, yaitu 1) hewan khusus yang disembelih, 2) diniatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah, dan 3) pada waktu tertentu. Ketiga unsur itu dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Hewan khusus yang disembelih, yaitu hewan-hewan tertentu, yang mencakup unta, kerbau, sapi, kambing, domba, dan biri-biri. Hewan-hewan inilah yang dimaksud dengan hewan-hewan tertentu. Hewan-hewan yang lain, seperti kuda, rusa, dan ayam, tidak termasuk di dalamnya. Jadi, hewan-hewan khusus itu harus disembelih. Kalau Anda memberikan kepada seseorang seekor unta, kerbau, sapi, kambing, domba, atau biri-biri untuk dipelihara dan diternakkan, maka hal ini tidak termasuk udhhiyah (أضحية), tidak termasuk kurban. Itu hanya sedekah biasa.

2. Diniatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah artinya hewan-hewan yang disembelih itu harus diniatkan dalam rangka untuk mendekatkan diri kepada Allah, sebagai wujud ketataan kepada-Nya. Tidak termasuk udhhiyah (أضحية) kalau hewan-hewan yang disembelih itu dipersembahkan sebagai sesaji untuk sembahan-semabahan selain Allah. Oleh sebab sebab, setiap orang yang akan menyerahkan hewan kurbannya harus berniat dengan ikhlas dan diniatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Hewan kurban yang akan disembelih itu tidak sah kalau tidak diniatkan untuk itu.

3. Ungkapan “pada waktu tertentu” menunjukkan bahwa hewan-hewan khusus yang sudah diniatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah harus disembelih pada waktu-waktu tertentu, yaitu hari-hari nahar (hari-hari memotong hewan kurban), yaitu selama 4 hari, mulai tanggal 10 hingga tanggal 13 Zulhijjah atau dari Hari Raya Idul Adhha (setelah pelaksanaan salat Idul Adhha) hingga tiga hari berikutnya, yaitu hari-hari tasyriq. Yang dimaksud dengan hari-hari tasyriq, adalah hari-hari menjemur di matahari, karena pada hari itu sebahagian dari daging-daging hewan kurban itu dijemur dan dikeringkan. Jadi, hewan kurban yang disembelih sebelum salat Idul Adha dan setelah hari tasyri tidak dipandang sebagai hewan kurban (أضحية) karena dilakukan di luar waktu yang telah ditentukan.

Dengan demikian, jelaslah bagi kita bahwa udhhiyah (أضحية) itu adalah hewan-hewan khusus (yang telah ditentukan) yang disembelih pada waktu tertentu (waktu-waktu yang telah ditentukan) dengan niat (tertentu), yaitu mendekatkan diri kepada Allah.

Semoga pesan ini bermanfaat bagi kita. Āmīn. Wallāhu a’lam bi al-shawāb. Jakarta-Kediaman Matraman, Senen pagi, tanggl 6 Agustus 2018.

About Hasanudin, M.Pd

Admin Web PBA : Hasanudin, M.Pd. | Web : www.hasanudin.id

Check Also

Edukasi Kosmologi dalam Isra Mikraj Nabi

Dr. Muhbib Abdul Wahab, M.A.Dosen Pascasarjana FITK UIN Syarif Hidayatullah dan UMJ PENDUDUK Mekkah pernah heboh …

Tinggalkan Balasan