Home / KOLOM DOSEN / Kurban Menurut Islam (5)

Kurban Menurut Islam (5)

KURBAN MENURUT ISLAM (5)
HUKUM BERKURBAN
Oleh : Prof. Dr. H. Ahmad Thib Raya, M.A.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Setiap amal yang dilakukan di dalam Islam selalu dikaitkan dengan melakukannya. Amal amal yang hukumnya wajib (tidak boleh tida harus dilakukan), ada amal yang hukumnya sunnat (lebih baik dilakukan), ada amal yang hukumnya makruh (lebih baik ditinggalkan), ada amal yang hukumnya haram (tidak boleh tidak harus ditinggalkan), dan ada amal yang hukumnya mubah (boleh boleh dikerjan, boleh ditinggalkan).

Bagaimana hukumnya amal berkurban? Ulama berbedan pendapat tentang hukum berkurban itu. Mari kita lihat pendapat para ulama tentang hukum kurban itu. Ada ulama yang menyatakan bahwa berkurban itu hukumnya wajib. Di antara ulama yang berpendapat demikian ialah Abu Hanifah. Beliau berpendapat bahwa kurban itu wajib dilakukan sekali setiap tahun bagi orang-orang yang mukim (yang tidak melakukan safar). Jika hukum berkurban itu wajib, maka orang-orang yang tidak melakukan kurban, akan berdosa.

Wajibnya berkurban itu dipahami dari sebuah hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibn Majah dari Abu Hurairah yang menyatakan: “Siapa yang memiliki kemampuan, lalu dia tidak mau berkurban, maka dia jangan mendekati mushalla kami.” Ancaman Rasulullah ini menegaskan wajibnya berkurban menurut pendapat golongan ini.

Sedangkan Abu Yusuf dan Muhammad yang juga dari golongan Hanafiayh dan ulma-ulama mazhab Maikiyah, Syafi’iyyah dan Hanabilah menyatakan bahwa berkurban itu hukum sunnat mu’akkad. Derajat hukumnya berada di bawah wajib, tidak sampi pada derajat wajib. Artinya, berkurban itu selalu dilakukan oleh Nabi. Pengertian ini menunjukkan bahwa kurban itu sangat dianjurkan untuk dilakukan oleh setiap muslim yang mampu melakukan kurban itu.

Hukum sunnatnya berkurban didasarkan pada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh sejumlah perawi hadis, kecuali Bukhari, yang menyatakan bahwa: “Apabila sudah menyaksikan masuk bulan Zulhijjah, dan ingin melakukan kurban, maka hendalah dia menahan bulunya dan kukunya.” Hadis ini dipahami oleg golongan sebagai isyarat bahwa hukum berkurban itu adalah sunnat.

Dari kedua pendapat itu dapat dikatakan bahwa ada dua pendapat ulama tentang hukum berkurban, ada yang wajib dan ada yang sunnat. Jika anda menganut hukum wajib, maka Anda`harus melakukan kurban setiap tahun. Jika Anda menganut hukum sunat, maka Anda dapat memiliki, berkurban atau tidak. Kalau Anda melakukan kurban, maka Anda mendapat pahala. Jika Anda tidak melakukannya, maka Anda tidak mendapat pahala dan juta tidak berdosa. Jika Anda mampu, berkurbanlah. Itu yang terbaik.

Sekian dulu untuk hari ini. Semoga pesan ini bermanfaat bagi kita. Aamiin. Wallaahu a’lam bi al-shawaab. Kota Solo-Hotel Sunan, Jumat pagi, tanggl 10 Agustus 2018.

About Hasanudin, M.Pd

Admin Web PBA : Hasanudin, M.Pd. | Web : www.hasanudin.id

Check Also

Edukasi Kosmologi dalam Isra Mikraj Nabi

Dr. Muhbib Abdul Wahab, M.A.Dosen Pascasarjana FITK UIN Syarif Hidayatullah dan UMJ PENDUDUK Mekkah pernah heboh …

Tinggalkan Balasan