Home / KOLOM DOSEN / Kurban Menurut Islam (8)

Kurban Menurut Islam (8)

KURBAN MENURUT ISLAM (8)
PENJABARAN HUKUM BERKURBAN (3)
Oleh : Prof. Dr. H. Ahmad Thib Raya, M.A.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Berkurban menurut pandangan Golongan Syafi’iyyah dan Hanabilah hukum dasarnya adalah sunnat mu’akkad. Akan, tetapi berkurban itu bisa hukumnya wajib apabila dia berkurban karena bernazar. Misalnya, dia berkata wajib bagiku unuk berkurban, atau dia mengatakan: “Wajib aku melakukan kurban terhadap hewan ini, atau kalimat yang semacamnya. Maka dalam keadaan demikian, dia wajib melakukan kurban, dan hewan yang ditunjukkannya untuk berkurban harus dikurbankan.

Ada dampak lain dari hewan yang dinazar untuk dikurbankan itu, yaitu bahwa semua daging yang berasal dari hewan yang dikurbankan karena nazar itu tidak boleh diambil atau diberikan kepada yang berniat melakukan kurban itu. Tidak hanya dagingnya yang haram diambil olehnya, tetapi juga susu yang dihasilkan dari hewan yang akan dikurbankan itu. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa seuruh bahagian tubuh dari hewan yang dinazar untuk dikurbankan tidak boleh (haram) diambil oleh yang berinat berkurban.

Jika ada hewan betina yang akan dikurbankan lalu melahirkan anak, maka anaknya juga harus ikut dikurbankan, disembelih Bersama dengan induknya. Ini memperkuat bahwa hewan yang sudah dinikan untuk dikurbankan karena nazar, maka semua bahagian dari hewan itu tidak boleh (haram) diberikan kepada yang berniat melakukan kurban.

Selain hewan yang diniatkan untuk nazar, seperti kurban biasa, bukan kurban wajib, menurut golongan ini, diperbolehkan untuk dibagikan atau diberikan kepada pemilik hewan kurban itu. Ini menagaska bahwa hewan yang dikurbankan sebagai hewan kurban yang sunnat muakkad tadi boleh dimakan oleh pemiliknya. Akan tetapi, hewan kurban karena nazarnya, maka hukumnya haram bagi pemilik hewan kurban untuk mengambil sedikit atau sebahagiannya. Semuanya harus dibagi untuk para fakir miskin.

Kedua golongan ini mengaskan bahwa jika seseorang yang berniat di dalam hati untuk melakukan kurban, tanpa melafalkan (mengucpkan) niatnya itu, maka hewan yang dikurbankannya itu tidak sah dikurbankan. Oleh sebab itu, menurut golongan ini, seseorang yang akan melakukan kurban, niat berkurbannya harus dilafalkan dan diucapkan.

Semoga pesan ini bermanfaat bagi kita. Āmīn. Wallāhu a’lam bi al-shawāb. Kot Makassar, Hotel Remcy, Senen pagi, tanggl 13 Agustus 2018.

About Hasanudin, M.Pd

Admin Web PBA : Hasanudin, M.Pd. | Web : www.hasanudin.id

Check Also

Edukasi Kosmologi dalam Isra Mikraj Nabi

Dr. Muhbib Abdul Wahab, M.A.Dosen Pascasarjana FITK UIN Syarif Hidayatullah dan UMJ PENDUDUK Mekkah pernah heboh …

Tinggalkan Balasan